Senin, 16 Desember 2019

Ungkapan Hati Yang Cerdas Akan menorehkan Kesan Cukup Mendalam

Every statement spoken has a covering describing the heart of the one uttering.

Setiap ungakapan yang terucap akan dibungkus oleh pakaian hati. Jika hati bersianr oleh cahaya, setiap ucapan yang keluar akan dibungkus oleh cahaya itu. Sehingga, semua pendengaran tidak akan menolaknya dan seluruh hati tidak bisa mengingkarinya. Pakaian yang membungkus ungkapan itulah cahaya yang keluar dari hati.
Ucapan orang bijak muncul dengan dibungkus oleh cahaya sehingga hati manusia yang tertutup akan terbuka dan mereka dengan mudah seruannya. Sebaliknya, ucapan orang-orang yang mengaku bijak disertai dengan kegelapan hati sehingga tak seorangpun yang mengambilnya manfaat darinya. Manfaat bisa saja di dapatkan dari isi ungkapannya bukan dari siapa yang mengucapkannya karena Allah SWT menguatkan agama kita.
Sebagai mana Firman Allah SWT:

أَفَلَمْ يَسِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَآ أَوْ ءَاذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى ٱلْأَبْصَٰرُ وَلَٰكِن تَعْمَى ٱلْقُلُوبُ ٱلَّتِى فِى ٱلصُّدُورِ ﴿٤٦﴾

"maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada mereka."
(Q.S.22:46)

Dalam kehidupan manusia tentunya ada pasang surut  serta baik turun. Hingga tida suatu saat semuanya berakhir. Saat kembang kehidupan menjadi layu, kemudian lenyap begitu saja. Inilah  Sunnatullah dalam kehidupan manusia. Dari ayat diatas kita diperintahkan selalu progresif dan awas. Lebih dari itu kita juga harus menghapus jauh-jauh tentang anggapan yang membuat kita takjub dengan orang-orang yang merasa nyaman dengan hanya duduk dirumah dan beku dalam kejumudan. Namun hendaknya kita melakukan petualangan berfikir secara mendalam mengenai semua sikap tauladan para terdahulu.
Ayat diatas juga dengan lugas menyuru kira untuk selalu merenungkan Sunnatullah dalam kehidupan dan makhluk hidup. Karena banyak orang yang memiliki otak/kecerdasan diatas rata tentang ilmu pengetahuan. Namun Tidak banyak dari mereka yang memiliki Hati yang Peka dan cerdas untuk memahami sesama makhluk. Namun ada juga yang memiliki Hati yang Peka dan cerdas kadang mereka menjadi gelisah atau justru membuat mereka terpesona dengan kesenangan yang murahan dan harta benda yang tidak berharga.
Pada akhirnya kita sebagai umat muslim yang hatinya dengan keimanan harusnya mampu menghadapi kehidupan ini dengan hati yang jernih serta ungkapan yang bersih serta mampu menalar kebaikan dan menerjemahkannya. Disisi lain pula kita juga harus mawas diri dengan hal-hal yang buruk lalu menghindari nya. Jika kita tida melakukan hal itu, maka kita akan kehilangan kendali atas hati tanpa kekang dan akal. Sehingga nya apa saja usaha kita selama ini akan gagal total..

29 komentar:

  1. Mawas diri dengan cara menjaga hati. Trims atas reminderself nya

    BalasHapus
  2. All..
    Terimakasih atas dukungan nya

    BalasHapus
  3. Saya tunggu part lainnya.
    Sukses.
    #Trozan

    BalasHapus
  4. Alhamdulillah mntab moga bermanfaat utk lainnya

    BalasHapus

Konsekuensi Pencinta Sejati

The true Lover is not be who Hopes for compensation or weeks his own aim from his beloved. Rather, the lover spends himself on his belove...